Adil dan Makmur

Sejak dulu Indonesia selalu mempunyai presiden-presiden yang gagah, cerdas, cakap berbahasa asing, dan gaya bangsawan. Meskipun rakyatnya banyak yang kesusahan.

2014 PDIP berkorban besar, tidak lagi mencalonkan ketumnya seperti biasa, namun rela mencalonkan Jokowi.

Tim sukses, sukses menarik hati masyarakat. Berhasil menjual kesederhanaan pak Jokowi, yang nampak kontras dengan presiden-presiden sebelumnya. Atau paling tidak, kesederhanaannya itu membuat rakyat merasa ia adalah bagian dari mereka.

Mulai dari baliho berisikan harga outfit dari bawah sampai atas yang cuma 500 ribuan aja, terjun ke berbagai tempat dan tak segan kotor-kotoran, juga kata-kata simpel yang tak banyak argumentasi di dalamnya.

Betul-betul kontras dengan kebanyakan pejabat saat itu. Bahkan saat medsos belum segencar sekarang. Sungguh simpel, gak banyak bicara. Dan kebetulan rakyat sedang sangat ingin dengan pemimpin seperti itu.

Terpilihlah jadi presiden 4.5 tahun sampai hari ini.

Dua tahun terakhir ini menjadi tahun tergaduh yang pernah dialami Indonesia setelah masa reformasi. Bahkan boleh jadi lebih gaduh dibanding masa reformasi.

Orang-orang betul-betul banyak tak percaya pada pemerintah. Setiap apa yang dilakukan pemerintah, rakyat tidak percaya. Biarpun itu niat baik, apalagi kalau sudah kelihatan bau-bau nggk baik.

Hal ini utamanya terlalu banyak kebenaran yang tidak diucapkan, kebohongan yang disembunyikan, tuduhan yang tak ada sanggahan.

Sehingga muncul kesan seakan pemerintah mendukung kejahatan, memang benar-benar berbohong, tuduhannya memang benar.

Ia tidak bisa mengucapkan kebenaran. Kasus ahok misalkan, betapa sulitnya mengucapkan bahwa Ahok pada saat itu memang menistakan agama. Saat di demo jutaan orang dihadapan rumahnya malah pergi, jutaan. Sampai harus konsul sana sini, untuk ucapkan satu kebenaran. Itupun tidak tegas tidak terang. Sehingga orang mengira memang ia melindungi Ahok.

ESEMKA, Bantuan lombok, bocor 11 rb triliun, pejabat korupsi, kalau ditanya itu ia bilang: “laporkann !”. Sebagai masyarakat kita butuh juga ditenangkan dan diterangkan. Kalau hanya bilang laporkan aja justru itu membuat publik semakin tidak percaya. Sebab publik tidak melihat komitmen dalam kata-katanya, saat publik tidak percaya bahkan pada penegak hukum, apa gunanya mengatakan “laporkan”.

Disini sangat terlihat pak Jokowi terlihat tidak paham kondisi kejiwaan publik. Ia berkata tidak sebagai seorang pemimpin, yang akan didengar rakyat. Kata-katanya itu hanya untuk dirinya sendiri.

Saat ditanya wartawan tentang ini itu, jawabnya tanya saja menteri ini itu, kalau nggk, pergi meninggalkan wartawan. Saya tidak bilang planga-plongo sebab itu udah banyak dipakai orang.

Tuduhan-tuduhanpun tidak ada sanggahan. Yang ada hanya teriakan lawan. Sebelumnya buku jokowi undercover dijadikan buku haram, disitu ia dituduh PKI.

Bukannya memberikan sanggahan dan klarifikasi, ia menahan penulis yg kini entah dimana. Dengan melakukan hal itu justru membuat publik berpikir, oh kayaknya emang bener tuh. Dan sampai saat ini isi buku itu tidak pernah diklarifikasi dan tak boleh dibicarakan secara ilmiah.

Kepercayaan hilang begitu membanjir. Seiring dengan diikuti banyaknya kejadian hari ini. Rakyat dilarang menyebar hoax tapi pemimpinnya terus menerus melakukan hoax. Sampai harus PM Malaysia yg mengklarifikasinya. Soal Siti Aisyah. Bahwa ia lepas hasil diplomasi dengan indonesia adalah hoax.

Horror, pemimpin tertinggi disuatu negara dijitak kepalanya oleh pemimpin negara lain dihadapan rakyatnya sendiri. Dan gak bisa ap-apa. Cuma diam. Tak ada klarifikasi balik dari presiden. Padahal Malaysia sudah bersikap hormat dengan menjadikan PM nya lah yg mengkonfirmasi ketidak benarannya itu, bukan menteri atau pejabat dibawahnya, atau tukang sapu dipenjaranya.

Hari ini, tidak pernah ulama bersatu padu demikian kuatnya dalam usaha memenangkan salah satu calon presiden. Walau demikian, masih saja di fitnah mendirikan khilafah sampai tak akan ada tahlilan lagi. Makin lagi umat tak percaya pemerintah. Dihina lagi ulama dengan cara disogok pakai amplop. Kurang horror gimana.

Hari ini kesederhanaan pak Jokowi memanglah betul adanya. Hal demikian haruslah jadi contoh dalam keluarga.

Namun halnya, kesederhanaan ternyata tidak dapat menolong orang yang kesakitan. Kesederhanaan boleh dalam berpakaian tapi tidak dalam ilmu pengetahuan dan kepemimpinan.

Kesederhanaan saja tak dapat menolong orang yang kesakitan. Orang miskin harta perlu orang yg punya harta benda. Orang sakit badan perlu seorang dokter. Orang kurang berilmu perlu seorang guru. Masyarakat perlu orang yang mengerti, memberikan informasi, menjadi solusi. Menangkan bilah hati publik terkaiti, bukan malah mempupuki.

Hal-hal kecil biarlah diurus orang kecil. Sertifikat, selokan, kolam, bangunan. Yang sedikit-sedikit biarlah diurus oleh pemimpin yang tanggung jawabnya sedikit. RT, RW, Lurah, Bupati, Gubernur, Dirjen, Menteri, tukang sapu, tim orange.

Bukan seakan engkau mengurusi urusan rakyat kecil, tapi urusanmu yang lebih besar dan luas engkau abaikan, tak kau pahami.

Terimakasih pak Jokowi untuk satu periode ini. Kiranya lebih baik sampai disini.

Engkau berpengalaman memimpin negeri ini. Kamipun berpengalaman dipimpin olehmu. Kita sama-sama berpengalaman, jangan bilang hanya bapak saja. Dengan pengalaman bapak mencalonkan lagi, dengan pengalaman pula kami tidak memilih presiden yang sama lagi.

Respond For " Adil dan Makmur "