Pak Darmaji

Ini kisah tentang pak Darmaji. Ia seorang guru Agama, Bahasa Arab, Tahsin, juga Tahfidz. Borongan memang mata pelajaran yang dia diampu. Khas sekolah-sekolah yang lagi merintis, untuk mengurangi beban sekolah.

Banyaknya waktu mengajar tidak berbandi

ng lurus dengan tebalnya isi amplop. Tapi berbanding lurus dengan silaturahmi dan kesegaran hati yang didapat dari sesama guru dan siswa didik.

Darmaji memang populer dan mudah disukai oleh anak-anak, bahasa kerennya dia itu likeable. Namanya saja lucu, anak-anakpun senang memanggilnya dengan sebutan pak Dar. Mirip dengan suara balon meletus.

Pak Dar sering memberi nasehat pada siswa-siwanya untuk selalu berlaku jujur. Salah satunya kalau sedang jajan di kantin bawah. Jangan sekali-kali DARMAJI, Dahar Lima Mbayar Siji !.

Ia guru baru, muda, dan ganteng — setidaknya menurut dirinya sendiri-. Ini semester keduanya ia mengajar di Sekolah itu.

Sangat bersemangat dan berusaha dengan sungguh-sungguh agar dapat menginspirasi siswa-siswanya. Segala teori pendidikan yang ia tahu ia lakukan. Ia ingin agar anak-anak didikannya menjadi generasi yang berkemajuan, membawa umat kepada pemimpin peradaban berpuluh-puluh tahun kedepan nanti.

Menjadi islam yang berkemajuan.

Tak jarang pak Dar menjelaskan berbagai kecanggihan dan keajaiban alam semesta dalam pelajarannya.

Bagaimana kebesaran Allah yang menciptakan pohon nangka dan duren meskipun dari tanah yang sama dan ditanam bersebalahan, tapi pohon nangka tetap berbuah nangka, dan pohon duren tetap berbuah duren, tak pernah tertukar menjadi buah nangka tapi rasa duren.

“ Jarak antara Bumi dan Matahari itu 145 juta kilo meter jauhnya. Sama dengan 3.625 kali keliling planet bumi. Sama dengan pulang pergi dari sekolah ke Masjid Diponegoro balai kota sebanyak 1,450 milyar kali ! “

Cerita pak Dar diikuti bola mata membesar dan mulut membulat murid-murid yang besarnya hampir seperti bakso urat seharga 12.000 per biji diwarung dekat sungai Balirejo: berpikir apa itu milyar.

Namun pak Dar sebagaimana guru lain, bukan tanpa mendapatkan masalah dalam mengajar.

Entah berapa kali ia mengingatkan agar tidak mencontek dan berlaku jujur. Tetap saja ada sebagian kecil siswa yang melakukannya.

Si anak senang melihat nilai bagus dari tugas-tugas yang bukan dari hasil kerja sendiri. Sebagian takut karena bila mendapat nilai tidak cukup baik akan kena musibah di rumah.

Dari awal sebetulnya pak Dar tak terlalu suka memberikan tanda tangan ataupun nilai pada setiap tugas yang hanya ia berikan sepekan sekali itu, kecuali untuk sekedar mengapresiasi hasil usaha keras mereka.

Namun dengan adanya kasus mencontek itu ia semakin tak ingin melakukannya. Sebab si Anak akan terdidik merasa puas dengan hasil yang bukan dari usaha yang ia kerjakan.

Esok harinya bersama para siswa, setelah selesai membahas dan mengkoreksi bersama tugas bahasa Arab yang diberikan pekan lalu pak Dar bertanya. “Siapa yang tidak mengerjakan tugas ?” ada tiga anak yang mengacungkan tangan. Ternyata mereka hanya kurang dua soal terakhir yang dianggapnya sulit.

Tak apa kalau kurang dua soal kata pak Dar. Kemudian ia bertanya lagi, “siapa yang betul semua? ” empat-lima anak mengacungkan tangan tinggi-tinggi. Diantaranya ada anak perempuan yang baru belajar Islam setahun terakhir, sebab pada waktu itu pula ibunya masuk Islam dan ia berpindah sekolah.

“Siapa yang salah dua ?” lebih banyak lagi yang mengacungkan tangan, dengan telunjuk dan jempol membentuk pistol.

Ia akhiri pertanyaannya, semua baik karena telah mengerjakan tugas yang diberikan.

“ Oke anak-anak silahkan rapikan bukunya, ambil perlengakapan shalat dan bersiap shalat duzhur “.

Anak-anak protes minta tanda tangan dan nilai. “ wah pak udah capek-capek dikerjakan masa tidak dikasih nilai “. Wajah-wajah mereka tampak murung dan kecewa.

Pak Darmanji menjawab“ Anak-anak kali ini tugas tidak akan di tanda tangani atau di beri nilai oleh pak Dar. Semua usaha anak-anak akan dinilai langsung oleh Allah. siapa yang bekerja sungguh-sungguh dan berusaha belajar akan dinilai baik oleh Allah, siapa yang mengerjakan dengan jujur akan dinilai sangat baik oleh Allah, siapa yang mengerjakannya dengan sungguh-sungguh hati, jujur, meskipun lelah namun tetap berjuang untuk mengerjakan, Allah akan menilai sesuai usaha anak-anak semua. Begitupun yang bukan hasil usahanya sendiri. Oleh karena itu sekarang bukan pak Dar yang memberi nilai, namun Allah langsung yang akan menilai usaha kalian. Karena Allah memperhatikan semua yang anak-anak kerjakan !”.

Anak-anak berteriak girang, senang mendengar pidato singkat itu.

Puas karena mereka yang senantiasa berusaha sungguh-sungguh, usahanya tidaklah sia-sia. Sebab Allah memperhatikan kebaikan-kebaikan yang ia usahakan.

Respond For " Pak Darmaji "