Fake News dan Ilmu Hadis – Kesimpulan

Setelah menelaah secara singkat sejarah fake news dan perjalanan ilmu hadis sejak masa Nabi sampai para pengumpul hadis seperti Bukhori dan Muslim, harapannya dapat tergambar beberapa kesamaan dan jalan keluar.

Yang pertama adalah kesamaan objek yang dipalsukan, yakni berita. Bedanya yang disebutkan pertama adalah berita yang bersifat umum. Isinya boleh terkait suatu peristiwa, atau informasi dimana orang bebas untuk percaya atau tidak, sekedar pelengkap pengetahuan atau untuk meneliti lebih dalam.

Adapun yang disebutkan kedua memiliki muatan yang sama namun mempunyai pengaruh mendasar pada setiap orang beriman. Yakni setiap berita yang datang dari Nabi, bagi seluruh umatnya adalah jalan hidup yang harus dipahami dengan ilmu pengetahuan, diyakini tanpa noda dalam hati, dan dijadikan pedoman dalam setiap perbuatan.

Pemalsuan terhadap hadis telah berlangsung berabad-abad silam. Berabad-abad lalu pula tidak ada hadis yang tidak diketahui kualitas dan identitas setiap perawinya. Ilmu, metodologi untuk memisahkan yang palsu dari yang suci telah tersebar dalam goresan pena para sarjanawan.

Eksistensinya telah coba berkali-kali diragukan oleh para orientalis abad-abad ini. Lalu para orientalis pulalah yang membatalkan argumentasi keraguan itu dan membaliknya menjadi argumen kuat akan ke otentikan hadis.

Hari ini bermilyar-milyar orang diseluruh dunia membaca dan mempelajari hadis. Hadis-hadis dikutip dijutaan goresan tangan. Sejak seribu empat ratus tahun lalu ia menemani hidup manusia. Bilakah ia palsu atau bukan wahyu tentu saja telah beramai-ramai orang tahu.

Rastusan atau bahkan ribuan hoax di media sosial telah berlipat menjadi jutaan share, sebab ketidak tahuan dan kefanatikan. Sama seperti dulu.

Bedanya, orang dulu mampu melalui kesulitan itu. Bahkan melampauinya hingga melahirkan berbagai macam bidang ilmu pengetahuan.

Sekarang giliran kita. Mampukah mengalahkan surplus kepalsuan dan menjadikannya sebagai tanda awal peradaban baru. (ilh)

Ternyata diakhir tulisan saya malah seperti orang yang berorasi. wah wah…

Ini adalah bagian kelima dan terakhir dari seri pembuka untuk tema Fake news dan hubungannya – solusinya – dengan ilmu hadis.

Selanjutnya insya Allah akan membahas bagaimana mengetahui keaslian suatu berita menggunakan kaidah keshahihan hadis.

Respond For " Fake News dan Ilmu Hadis – Kesimpulan "