Fake News dan Ilmu Hadis 4

Setelah melakukan penelitian terhadap kitab shahih Bukhori dan Muslim, para ulama berkesimpulan terdapat syarat-syarat tertentu yang dipakai oleh kedua ulama tersebut dalam menentukan keshahihan hadis.

Pertama ialah sanad yang bersambung. Yakni setiap periwayat hadis menerima hadis dari periwayat hadis yang terdekat dengannya. Ketersambungan ini dimulai dari mukhorij (Penghimpun hadis seperti Bukhori, Muslim, Abu Daud dll), para periwayat hadis, sampai kepada Nabi.

Bersambung dalam periwayatannya. Sebagai contoh, seorang tabi’in harus meriwayatkan hadis yang didapatnya dari para sahabat, tidak langsung kepada Nabi. sebab tabi’in itu tidak pernah bertemu dengan Nabi.

Kedua periwayat yang adil. Para ulama memiliki beragam pendapat terkait penjelasan perawi yang adil. Secara umum dapat diambil beberapa poin yang umunya disepakati ulama. Yakni adil itu ialah perwayat yang 1. Beragama Islam; 2. Mukalaf; 3. Melaksanakan ketentuan agama; 4. Memelihara Murua’ah;  5. Tidak pernah melakukan dosa besar; dan 6. Jarang melakukan dosa kecil.

Pada masa itu, bahkan bila seorang periwayat pernah didapati sedang makan di pasar, ia akan dianggap tidak menjaga muru’ah.

Ketiga Periwayat bersifat dhabit. Yakni periwayat yang kuat hafalannya tentang apa yang telah didengarnya dan mampu menyampaikan hafalannya itu kapan saja dia menghendaki, ia hafal dengan sempurna hadis yang didengarnya. 

Kedhabitannya periwayat dapat diketahui berdasarkan kesaksian para ulama, kesesuaian riwayatnya dengan periwayat yang sudah dikenal ke-dabitannya, bila sesekali keliru masih dapat dinyatakan dabit, namun bila kekeliruannya itu sering terjadi maka tidak lagi disebut sebagai periwayat yang dabit.

Keempat terhindar dari syuzuz. Menurut imam Syafi’I, suatu hadis tidak dinyatakan sebagai mengandung syuzuz, bila hadis itu hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat yang siqat, sedang periwayat siqat lainnya tidak meriwayatkan hadis itu. Barulah suatu hadis dinyatakan mengandung syuzuz, bila hadis yang diriwatkan oleh seorang periwayat yang siqat tersebut bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh banyak periwayat yang juga bersifat siqat.

Syuzuz maksudnya ialah adanya pertentangan satu riwayat hadis dengan riwayat-riwayat hadis lainnya yang juga sama-sama siqat.

Kelima terhindar dari ‘ilat. Ialah sebab tersembunyi yang merusakkan kualitas hadis. menurut al-Hakim an-Naisaburi acuan utama penelitian ‘illat hadis ialah hafalan, pemahaman dan pengetahuan yang luas tentang hadis.

Apabila suatu riwayat hadis dapat memenuhi kelima unsur diatas. Maka riwayat hadis itu dapat dinyatakan sebagai hadis yang shahih. (ilh)

Respond For " Fake News dan Ilmu Hadis 4 "