Mengejar Oleh-oleh Terbang

Lima tahun lalu saya pernah meneriaki orang melempar sampah di jalanan dari atas mobilnya yang melaju kencang.

Ia orang kota, nampaknya pulang liburan dari arah Bandung, lewat jalanan Cianjur, menuju Ibu kota.

Hati berdebar dijalanan gelap malam, mobil yang sedari tadi dihadapan itu saya kejar dengan mesin motor batuk-batuk.

Melewati kelok dan lubang jalan. Mobil dengan kekuatan ratusan tenaga kuda tampak tak goyah.

Ambil posisi dipinggirnya, tepat sejajar dengan jendela kaca depan mobil. Tempat tangan cantik keluar melempar ‘oleh-oleh’.

Beresiko, salah perhitungan sedikit saya bisa terperosok kebahu jalan, atau tersenggol mobil tersangka, atau menabrak mobil didepan bila tiba-tiba berhenti,boleh juga masuk lubang jalanan.

Ternyata sang supir berlengan besar dan bertato, horror juga saya pikir. Dipinggirnya bersantai perempuan setengah baya -masih agak muda-, duduk dengan posisi setengah tidur menikmati segar semilir angin dan pepohonan kiri-kanan jalan.

“Woyyy jangan buang sampah sembarangan ! ”

Dengan seluruh kekuatan dalam satu kali hentakan hembusan nafas panjang. Dan perut keroncongan.

Harus yakin. Karena sambil ngebut maka harus dipastikan kalimat yang terungkap jelas, terang, sampai, dan mudah dimengerti.

Si pelempar ‘buah tangan terkaget-kaget’, begitupun si supir, begitupun saya yang melihat kekagetan mereka !

Anak kelas 3 SMA itu tarik gas secepat kilat, tapi tunggangan tak sanggup merespon secepat itu. Beruntunglah jalanan cukup padat. Ia berhasil kabur;

Dua hari lalu diwaktu dan tempat yang hampir mirip, pun kejadiannya.

Menyesuaikan bahasa sesuai plat nomer mobilnya, saya kembali teriak, sedikit lebih sopan, tapi keras.

“Mas, mbak jangan buang sampang sembarangan. Sampah ! sampah !”.

Kali ini kebetulan memakai tunggangan yang lebih baik. Vario 150. Bisa tancap gas begitu cepat. Tapi rem lupa diperbaiki.

Beberapa bulan lalu baru saya sempat menyesal tidak berusaha menjadi lulusan terbaik saat wisuda.

Dalam sambutan wisudawan terbaik ingin saya sampaikan pada pak Rektor, harusnya wisuda ditunda terlebih dahulu.

Sebab diruangan sebelah ada ribuan pelastik bungkus slendang wisudawan yang berserakan, ‘disimpan’ sembarangan. (Ilh)

Respond For " Mengejar Oleh-oleh Terbang "