Fake News dan Ilmu hadis 3

Imam muslim dalam muqaddimah shahih muslim mengutip perkataan Imam Muhammad bin Sirin sebagai berikut: “ Para ulama hadis tadinya tidak menanyakan tentang sanad, tetapi tatkala terjadi fitnah, mereka berkata, ‘sebutkan kepada kami nama rawi-rawimu, bila dilihat yang menyampaikannya adalah seorang ahlus sunnah maka hadisnya diterima, tetapi bila yang menyampaikannya ahlul bid’ah maka hadisnya ditolak. “

Muhammad bin Sirin adalah seorang tabi’in yang lahir pada 33 H dan wafat pada tahun 110H. Pernyataan Muhmmad bin Sirin ini memperkuat inidikasi bahwa pemalsuan hadis sudah mulai bermunculan sejak masa tabi’in. Namun tidak pada masa Khulafau rasyidin.

Sebab pada masa itu para khalifah sejak Abu Bakar sampai  dengan ‘Ali bin Abi thalib sangat tegas dan berhati-hati dalam menerima periwayatan hadis.

Abu Bakar mengharuskan periwayat hadis membawa saksi yang membenarkan periwayatannya, pun Umar yang mengharuskan periwayat menghadirkan sahabat lain yang meriwayatkan hadis yang sama, Usman bin ‘Affan tak jauh beda. ‘Ali mengharuskan periwayat hadis untuk bersumpah.

 Pada zaman setelah sahabat Nabi sampai dengan masa penghimpunaan hadis-hadis kedalam kitab-kitab hadis, telah dibakukan tatacara penyampaian dan periwayatan hadis. hal tersebut sangat erat kaitannya dengan upaya ulama menyelematkan hadis dari pemalsu-pemalsu hadis.

Sampai dengan abad ke 3 H, para ulama hadis belum menyebutkan secara eksplisit definisi dari hadis shahih. Akan tetapi sudah memberikan penjelasan tentang penerimaan berita yang dapat dijadikan pegangan.

Diantara penjelesannya itu ialah riwayat hadis hanya dapat diterima dari orang-orang yang siqat. Periwayat hadis harus kuat hafalannya, kapan dan dalam situasi apapun hafalannya itu di uji, ia harus mampu meriwayatkan secara sempurna.

Diperhatikan shalatnya, perilakunya dan keadaan dirinya. Tidak boleh diterima riwayat hadis dari orang-orang yang suka berdusta, tidak memiliki pengetahuan hadis, tidak mengerti hadis yang diriwayatkannya, dan lain sebagainya. (ilh)

Respond For " Fake News dan Ilmu hadis 3 "