Fake News dan Ilmu Hadis 2

Hadis Nabi yang terkumpul dalam kitab-kitab hadis saat ini pada mulanya adalah hasil kesaksian atau laporan para sahabat terhadap sabda, perbuatan, taqrir dan segala sifat, kedaan pribadi Nabi. Dengan kata lain hadis itu adalah berita tentang Nabi.

Yakni berita yang berkenaan dengan sabda, perbuatan, taqrir dan segala sifat, keadaan pribadi Nabi. Kemudian berita itu disampaikan oleh para sahabat kepada tabi’in, atba’ tabi’in lalu dikumpulkan oleh para penghimpun hadis seperti imam Bukhori dan Muslim.

Para sahabat memiliki minat yang besar untuk menerima dan menyebarkan hadis. Hal tersebut diantaranya ialah kerena pertama Allah menyebutkan dalam al-Qur’an bahwa Nabi Muhammad adalah uswatun hasanah yang harus diikuti dan dita’ati oleh orang yang beriman.

Kedua Allah memberikan penghargaan bagi mereka yang berpengetahuan. Ketiga Nabi memerintahkan para sahabat untuk menyampaikan pengajaran Nabi kepada sahabat lainnya yang tidak hadir.

Keempat, keberhasilan Nabi sebagai seorang pemimpin menginspirasi rakyatnya untuk mengikuti tingkah laku Nabi.

Berita tentang Nabi baik sabda, perbuatan, taqrir, dan segala sifat, keadaan Nabi bagi orang beriman tidak hanya dimaknai seperti berita pada umumnya sebagai sebuah informasi saja.

Namun ia dimaknai sebagai salah satu sumber pokok ajaran umat islam, yang harus ia pahami dan ta’ati agar mendapat petunjuk agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.

Berita tentang Nabi ini memberikan dorongan yang kuat pada orang beriman untuk percaya atau tidak percaya akan sesuatu, untuk mengatakan atau tidak mengatakan sesuatu, untuk melakukan atau menjauhi sesuatu. Ia menjadi tuntunan hidup.

Kedudukan hadis yang istimewa sekaligus mendasar bagi umat islam inilah kiranya selain dijadikan pedoman hidup yang suci untuk dijalani, dilain pihak digunakan untuk kepentingan pribadi dengan membuat hadis-hadis palsu.

Pemalsuan itu memiliki berbagai macam latar belakang. Mulai dari mendorong anak-anak atau seseorang untuk melakukan kebaikan, untuk kepentingan pribadi, mencari rezeki, membela pendapat atau madzhab tertentu, sampai dengan usaha mendekatkan diri pada penguasa.

Dalam hal ini para ulama dan sarjana muslimlah yang mengambil bagian sangat penting dalam melakukan penjagaan terhadap hadis Nabi. Melalui metode ilmiah dan kritik sanad yang demikian ketat.

Hingga pada hari ini kita menemui, hadis dari segi kualitas kemudian terklasifikasi menjadi tiga. Yakni Shahih, Hasan dan Dhoif.  (ilh)

Respond For " Fake News dan Ilmu Hadis 2 "