Fake News dan Ilmu Hadis 1

Berita palsu dalam istilah Inggris disebut dengan Hoax,  fake news, misinformation, atau misleading news. Akhir-akhir ini – terutama menjelang Pilpres 17 April – tersebar begitu luas melalui sosial media.

Berbagai macam kepentingan melatar belakangi produksi berita palsu. Mulai dari kepentingan pribadi sampai – terutama – kepentingan politik.

Fenomena ini menyebar dalam waktu yang relatif singkat ke negara-negara Asia tenggara terutama Indonesia. Yakni setelah kesuksesan Trump dalam memenangkan pemilihan umum 2016 lalu.

Di Amerika, tiga bulan menjelang pemilihan umum presiden adalah masa-masa puncak dari penyebaran berita palsu itu.

Dalam waktu yang cukup singkat tersebut, tercatat setidaknya pada Facebook terdapat 30 juta share berita palsu yang berisi dukungan untuk Trump, dan 8 juta share untuk berita-berita palsu yang berisi dukungan untuk Clinton.

Dari total 38 juta share Facebook itu belum lagi dihitung jumlahnya di Twitter, Instagram, WA dan media sosial lainnya.

 Keadaan demikian diperparah dengan kecenderungan sikap masyarakat dimana kebenaran yang objektif tidak lebih berpegaruh bagi mereka dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan pribadi.

Orang merasa mantap akan berita yang ia senangi menurut emosi dan keyakinan pribadi, bukan berdasar fakta dan nalar kritis. meskipun ia ragu, atau bahkan tahu ketidak benaran berita itu.

Ia takut mendapati kebenaran yang berlainan dengan apa yang ia yakini, hingga ia memilih untuk membenarkan keyakinannya dengan gelap mata. – Post-truth – (ilh)

Respond For " Fake News dan Ilmu Hadis 1 "